Mencari Rizki Halal

emakPagi tadi, di tengah hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta ada sesuatu yang menarik perhatian saya, yaitu seorang laki-laki tua yang menjajakan buku dan majalah bekas di emperan depan sebuah gedung perusahaan. Yang menarik dari laki-laki ini adalah usahanya yang kuat dalam mencari rizki yang halal, walau sekedar berjualan majalah dan buku bekas, dan itupun jumlahnya tidak seberapa, itu juga kalau ada yang beli. Disaat yang lain meminta-minta, ia lebih memilih untuk berjualan walau sedikit guna menjaga kehormatan dirinya. Selain itu ia juga percaya dengan dirinya bahwa ia memang mampu, mampu mencari rizki tanpa meminta-minta. Pemandangan ini saya dapati setiap kali datang ke Kramat dalam kuliah rutin pada hari Kamis.

Pemandangan seperti diatas mungkin sering kita dapati di sekitar kita. Satu ibrah yang membuat saya tertarik untuk menuliskan tulisan ini yaitu bahwa Allah mengatur dan menentukan rizki hamba-hamba-Nya. Silahkan manusia mencarinya dengan berbagai cara hingga mendapatinya tanpa melanggar kaidah halal dan haram. Sangat mulia orang mencari rizki dengan cara halal walaupun nanti hasilnya sedikit, dibanding dengan orang yang banyak mendapatkannya namun dengan jalan yang haram. Saya teringat dengan hadits Rasulullah:

“Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri.” (HR. Bukhari)

“Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (Mutafaq ‘Alaih)

“Tidaklah sekali-kali seseorang makan suatu makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

“Yang pertama kali busuk dari badan manusia dalam kubur adalah perut, maka janganlah kalian makan kecuali yang baik.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

“Meminta-minta  akan  senantiasa  ada  pada  salah  seorang  dari  kalian  sampai  dia  bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Muslim: 1724, Ahmad: 4409)

“Barangsiapa meminta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya maka dia  hanyalah  sedang  meminta  bara  api  maka  hendaknya  dia  mempersedikit  ataukah memperbanyak. ” (HR. Muslim: 1726, Ibnu Majah: 1828, Ahmad: 6866 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu)

اللهم ولا تجعل الدنيا أكبر همنا، ولا مبلغ علمنا، ولا إلى النار مصيرنا، ونسألك اللهم الغنيمة من كل بر، والسلامة من كل إثم، وبارك لنا فيما رزقتنا، وقنا عذاب

“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, puncak ilmu kami, jangan Engkau jadikan neraka tempat kami kembali, kami memohon kepada-Mu bagian dari setiap kebaikan, keselamatan dari setiap dosa dan berkahilah kami pada rizki yang Engkau karuniakan kepada kami serta jauhkan kami dari api neraka”.

Wallahua’lam. Semoga bermanfaat!

Tambun, 15 Maret 2013

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s